Jumat, 16 Januari 2009

Cerita pagi ini

pagi ini, rintik-rintik hujan itu kembali menghujam bumi. Membuat corak norak menghijab kegersangan pandang. Dan aku kembali teringat di masa silam. Saat tubuh mungil ini terbiasa mengintip hujan dari balik jendela. Dengan imajinasi diri sedang menari menghentak genangan kesejukan. Air di atas rerumputan yang hijau, indah dn meyegarkan pandang.

Aku memang terlahir di sebuah desa nan asri. Dimana keindahan alam adalah hal yang membuat aku terlena. Bahkan saat aku harus mengikuti jejak kedua orang tuaku yang melabuhkan penghidupannya di Ibu Kota. Aku sebenarnya amatlah enggan berada pada setumpuk kemunafikan Jakarta. Aku lebih memilih berada di pangkuan nenek dan kakekku. Yang di masa tuanya masih tersirat ketegaran yang segar. Karena mereka menghargai alam yang memeluknya dengan beragam kemaslahatan.

Kini aku terdampar dalam hingar bingar. Dan alasannya sama dengan alasan ayah tercinta. Mencari sesuap nasi diantara berjuta manusia. Mengadu nasib dalam rengkuhan keindahan fatamorgana.

Aku termenung saat menghirup udara ini. Kenapa tak sesegar saat ku dikampungku. Aku termenung saat membasuh wajah dan tubuh lusuh ini, kenapa airnya tak sesegar saat ku dikampungku. Aku termenung saat berjalan sendirian, kenapa tak kujumpai rindang pepohonan yang meneduhkan. Aku termenung saat mencium sekitarku, kenapa polusi begitu merajalela mengusir sejatinya udara. Aku termenung dan aku berpikir tak cukup dengan merenung.